Saturday, February 2, 2013

FËANOR OF THE NOLDOR

oleh Poppy D. Kartadikaria


Finwë adalah raja kaum Noldor, tinggal di Valinor (Blessed Realm) pada First Age. Míriel, istrinya, melahirkan anak pertama mereka di istana Finwë di Eldamar. Nama putra mereka adalah Curufinwë, tapi oleh ibunya ia dijuluki Fëanor, Spirit of Fire. Setelah melahirkan, Míriel merasa letih lahir batin sehingga memohon agar nyawanya dicabut saja.

“Never again shall I bear child; for strength that would nourished the life of many has gone forth to Fëanor.”

Míriel membaringkan tubuhnya di taman Vala Lórien, namun rohnya telah pergi ke Hall of Mandos. Finwë menunggu, berharap Míriel kembali, tapi sia-sia. Akhirnya Finwë tidak lagi menunggu Míriel dan menikah lagi dengan Indis dari kaum Vanyar dan memiliki dua putra: Fingolfin dan Finarfin.

Fëanor tumbuh menjadi elf yang tinggi, tampan dan keras hati. Ia mempelajari seni menulis dan menempa, dan terbukti memiliki bakat hebat. Di antara para Eldar ia menjadi yang paling masterful.

Fëanor tidak menyukai pernikahan kedua ayahnya. Ia tidak menyukai Indis maupun kedua saudara tirinya, maka ia tinggal terpisah dari mereka, menjelajahi tanah Aman dan menyibukkan diri dengan ilmu pengetahuan dan seni menempa yang dicintainya.
Suatu ketika, Melkor (Vala yang memberontak), yang setelah memorak-porandakan Middle-earth ditangkap dan dikurung, meminta pengampunan. Manwë, lord of the Valar, memaafkannya. Tapi Melkor tetap diawasi dan tidak diperkenankan meninggalkan Aman.

Meski demikian, Melkor yang tetap membenci kaum Eldar melihat kesempatan untuk memecah-belah mereka. Ia membisikkan cerita-cerita bohong di antara kaum Noldor, yang dianggapnya paling memiliki semangat menyala-nyala. Ia menyebarkan kebohongan bahwa para Valar menginginkan kaum Eldar tinggal di Valinor agar tidak menguasai Middle-earth. Para Valar lah yang ingin menguasai semuanya dan bakal diciptakan pula ras Manusia yang mortal, yang bakal diberi kekuasaan di Middle-earth. Tujuannya adalah memicu pemberontakan kaum Eldar terhadap para Valar.

The Silmarils
Fëanor menempa tiga permata yang diberi nama Silmaril, permata paling indah yang pernah diciptakan. Ia berhasil memasukkan cahaya Two Trees of Valinor (dua pohon yang memberi penerangan di Valinor) ke dalam Silmarils, dan Vala Varda menyucikannya sehingga tak ada tangan-tangan jahat yang bisa menyentuhnya tanpa terbakar. Kemudian Vala Mandos meramalkan bahwa nasib Arda, tanah, laut dan udara, bergantung pada ketiga permata itu.

Melkor tentu saja menginginkan Silmarils dan mulai meracuni Fëanor dengan kebohongan bahwa adik tirinya, Fingolfin, berusaha menyikutnya dari kedudukan sebagai pangeran kaum Noldor, mengambil alih tahta Finwë dan menyingkirkan Fëanor beserta ketujuh putranya. Lama-kelamaan Fëanor mulai termakan hasutan, bicara terang-terangan pada kaumnya bahwa ia tidak mau menuruti perintah para Valar dan akan pergi kembali ke Middle-earth di mana ia bisa berkuasa, mengajak sebanyak mungkin pengikut.

Fingolfin yang khawatir mendesak ayahnya, Finwë, agar menahan Fëanor dan menyadarkannya. Namun Fëanor malah menantang adik tirinya dengan menghunuskan pedang, menyangka Fingolfin memang berusaha menyingkirkannya. Tapi Fingolfin tidak menyambut tantangannya dan pergi menemui adiknya, Finarfin.
Para Valar, mengetahui tingkah Fëanor, menganggap kelakuannya sudah keterlaluan, menjadi arogan dan memicu terjadinya keresahan serta mengepalai gerakan anti Valar di antara kaum Noldor. Maka para Valar menghukum Fëanor dan mengasingkannya selama 12 tahun jauh dari Valinor. Meski Fingolfin meminta para Valar mengampuni abangnya, Fëanor yang congkak tak mengindahkannya dan berangkat ke Utara Valinor, di mana ia tinggal dalam pengasingan bersama ketujuh putranya di perbukitan dan membangun benteng bernama Formenos.

King Finwë, karena cintanya pada putra pertamanya, ikut mengasingkan diri ke sana. Akhirnya kaum Noldor di Valinor dipimpin oleh Fingolfin dan maka, tampaknya kebohongan Melkor seakan benar, bahwa Fingolfin berusaha mengambil alih tahta, meski sebenarnya hal ini terjadi akibat perbuatan Fëanor sendiri.

Fëanor membawa serta Silmarils ke Formenos. Dan Melkor, setelah para Valar mengetahui tindak-tanduknya yang berusaha meracuni kaum Eldar, pergi menyembunyikan diri. Tapi karena masih ingin menguasai Silmarils, Melkor sempat mendatangi Fëanor ke Formenos, berusaha berteman dengannya, dengan harapan akhirnya bisa menguasai Silmarils. Tapi Fëanor mengusirnya.

The Darkening of Valinor
Melkor mencari jalan lain untuk melawan para Valar. Ia membujuk Ungoliant, labah-labah raksasa, untuk menjadi pengikutnya dan membantunya menghancurkan Two Trees of Valinor.

Tiba saatnya diadakan festival pemujaan Eru di Valinor. Manwë, Lord of the Valar, memerintahkan Fëanor untuk datang sendiri. Tapi Fëanor menolak membawa Silmarils yang terkunci rapat di bentengnya di Formenos. Di festival ia bertemu dengan Fingolfin dan Fingolfin mengulurkan perdamaian. Sambil menjabat tangan Fëanor, Fingolfin berkata,

“Half brother in blood, full brother in heart will I be. Thou shalt lead and I will follow. May no new grief divide us.”

Pada saat itu, Melkor dan Ungoliant datang. Ungoliant, yang selalu diliputi kegelapan di mana pun ia berada, menebarkan kegelapan pada Two Trees of Valinor dan Melkor membabat habis keduanya. Secepat kedatangannya, mereka pun pergi. Maka gelaplah Valinor karena kedua sumber cahaya telah mati.

Para Valar bersidang dan meminta Fëanor menyerahkan Silmarils, agar dari cahayanya bisa dibuat lagi pohon cahaya. Namun Fëanor berkata ia takkan melakukannya dengan sukarela, dan jika para Valar memaksanya maka mereka ternyata sama saja seperti Melkor: pencuri.

Tapi saat itu tiba utusan dari Formenos, mengabarkan bahwa Melkor yang diliputi kegelapan telah datang ke Formenos, mencuri ketiga Silmarils dan membunuh Finwë.

The Flight of the Noldor
Feanor murka. Ia menyebut Melkor sebagai Morgoth (the Black Foe of the World) dan juga murka pada para Valar yang telah menyuruhnya datang ke Valinor. Karena dipikirnya, jika ia ada di Formenos, ia bisa mempertahankan Silmarils dan menyelamatkan ayahnya.

Maka ia menyatakan pemberontakan terhadap para Valar dan mengumpulkan kaumnya agar ikut bersamanya mengejar Morgoth ke Middle-earth, berusaha merebut kembali Silmarils. Para Valar melarang mereka pergi, tapi Feanor tak mengindahkan. Banyak sekali kaum Noldor yang terbakar kata-kata Fëanor dan siap mengikuti pangeran mereka berangkat ke Middle-earth.

Fingolfin memutuskan untuk ikut, sebagian karena sumpahnya untuk selalu mengikuti Fëanor, sebagian karena merasa waswas membiarkan rakyatnya dimpimpin oleh Fëanor yang sembrono. Finarfin, dengan alasan yang sama, juga memutuskan untuk ikut ke Middle-earth, meski dirinya dan para pengikutnya adalah mereka yang paling enggan meninggalkan Valinor.

Kemudian Fëanor mengucapkan sumpah yang juga diikuti oleh ketujuh putranya, bahwa mereka akan memburu dan memerangi siapa saja sampai akhir dunia, baik Vala, Demon, Elf, atau Manusia yang belum dilahirkan, atau makhluk apa saja, kecil maupun besar, baik maupun jahat yang berani mengambil Silmarils dari tangan mereka. Mereka akan menderita jika tidak melaksanakan sumpah itu.

Maka berangkatlah kaum Noldor. Kelompok Fëanor berada di barisan terdepan bersama putra-putranya: Maedhros, Maglor, Celegorm, Caranthir, Curufin, Amrod dan Amras. Kelompok yang lebih besar di bawah bendera Fingolfin dan anak-anaknya berjalan di belakang, enggan meninggalkan tanah Aman. Dalam kelompok ini terdapat Finarfin dan anak-anaknya, yang termuda adalah Galadriel.

Kinslaying at Alqualondë
Kelompok Fëanor tiba lebih dulu di Alqualondë, kota tepi pantai yang dihuni elf kaum Teleri, yang merupakan perbatasan Aman dengan laut yang memisahkannya dengan Middle-earth. Kaum Teleri ahli membuat kapal, dan karena untuk tiba di Middle-earth dibutuhkan kapal untuk menyeberang maka Fëanor meminta kaum Teleri untuk ikut atau meminjamkan kapal-kapal mereka.

Tapi King Olwë (raja kaum Teleri yang juga adalah mertua Finarfin) menolak, karena tahu para Valar tidak menyetujui tindakan Fëanor, juga karena mereka mencintai kapal-kapal mereka seperti Fëanor mencintai Silmarils. Fëanor marah dan berusaha merebut kapal-kapal mereka dengan cara menyuruh anak buahnya menyerang kaum Teleri.

Kelompok Fingolfin tiba belakangan, melihat pertempuran anatara kaum Noldor dan kaum Teleri, menyangka kaum Teleri berusaha menghalangi mereka dengan cara kasar. Maka mereka membela kaum mereka sendiri tanpa tahu sebenarnya Fëanor-lah yang memicu peperangan itu. Rombongan Finarfin yang tiba paling belakang tidak ikut dalam pertempuran. Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak namun kaum Noldor berhasil merebut kapal-kapal kaum Teleri dan sebagian (kelompok Fëanor) membawanya menyusuri pantai ke arah Utara, di mana celah antara Aman dan Middle-earth paling pendek, sementara sebagian lagi berjalan kaki.

Ketika mereka tiba di Araman, daerah pegunungan bersalju, mereka melihat sosok besar berdiri menatap ke bawah ke arah mereka yang berada di garis pantai. Beberapa menganggap itu adalah Vala Mandos sendiri, yang kemudian mengucapkan kutukan:

“Tears unnumbered ye shall shed; and the Valar will fence Valinor against you, and shut you out, so that not even the echo of your lamentation shall pass over the mountain…”

Keluarga Fëanor dikutuk dan dilarang kembali menginjakkan kaki di Aman, dikatakan mereka akan menderita akibat sumpah mereka sendiri. Kemudian beberapa menjadi ketakutan dan memutuskan kembali ke Valinor, memohon ampun. Finarfin adalah salah satu yang kembali, dan banyak pengikutnya yang kembali bersamanya, tapi anak-anak Finarfin tetap bertekad berangkat ke Valinor, karena tak mau meninggalkan anak-anak Fingolfin. Maka Finarfin menjadi pemimpin kaum Noldor yang tersisa di Valinor.

Fëanor tidak gentar, karena ia tak pernah menjilat ludah sendiri, apalagi melanggar sumpah. Mereka yang terus berangkat terpaksa melakukannya karena sumpah setia pada Fëanor atau takut akan hukuman yang diberikan para Valar jika mereka kembali ke Valinor. Mereka mengikutinya tapi tidak mencintainya. Mereka menganggap Fëanor adalah biang keladi penderitaan mereka.

Akhirnya mereka tiba di Utara Aman, dataran bersalju menuju Helcaraxë, yang kemudian berbelok ke Timur menyambung dengan daratan Middle-earth. Terjadi perdebatan arah mana yang harus mereka tempuh: melalui Helcaraxë, jalan sulit bersalju, atau menyeberangi laut, tapi kapal-kapal tidak cukup untuk mengangkut mereka semua sekali jalan. Suatu malam Fëanor berangkat diam-diam dengan kapal, membawa para pengikutnya yang paling setia, termasuk ketujuh putranya. Mereka menelantarkan kelompok Fingolfin di Aman.

Mereka mendarat di muara Drengist dan berlabuh. Maedhros, putra tertua Fëanor, sempat ingin kembali membawa kapal-kapal ke Aman untuk menjemput kelompok Fingolfin namun dilarang oleh Fëanor, karena menurutnya kelompok Fingolfin tak layak dan telah meragukannya. Maka, di muara itu seluruh kapal kaum Teleri dibakar habis. Fingolfin, dari daratan Aman, bisa melihat di kejauhan kobaran api yang membakar kapal, maka ia tahu Fëanor telah mengkhianatinya. Kelompok Fingolfin kini memiliki alasan baru untuk terus berjuang melalui Helcaraxë menuju Middle-earth: untuk menghadapi Fëanor.

The End of Fëanor
Sementara itu kelompok Fëanor tiba di danau Mithrim dan mendirikan kemah di sana. Namun pasukan Morgoth yang melihat kobaran api dari kapal-kapal yang terbakar di Drengist menyerang mereka tiba-tiba, dan terjadilah Dagor-nuin-Giliath, the Battle-under-Stars, karena saat itu belum diciptakan bulan dan matahari, hanya bintang bertaburan di langit dunia.

Kaum Noldor berhasil mengusir pasukan Morgoth dan membuat mereka kocar-kacir. Namun Fëanor, dengan semangat menyala-nyala, menganggap ia bisa langsung menghadapi Morgoth dan mengejar pasukannya. Ia berada di garis depan, dan tiba-tiba muncul Balrog-Balrog dari Angband (tanah kekuasaan Morgoth di Utara Middle-earth). Fëanor melawan dengan beringas, namun terluka parah. Putra-putranya menyelamatkannya dan membawanya kembali menuju danau Mithrim. Tapi ketika mereka melewati pegunungan Ered Wethrin, Feanor menyuruh outra-putranya berhenti, dan menatap Thangorodrim, menara tertinggi yang ada di Middle-earth, yang didirikan Morgoth di Angband. Ia tahu nyawanya takkan bertahan. Ia mengutuk nama Morgoth tiga kali dan menitahkan ketujuh putranya untuk tetap mempertahankan sumpah mereka; dan Fëanor pun mengembuskan napas terakhir dan rohnya melayang ke Hall of Mandos, takkan pernah keluar lagi. Tapi tak ada pemakaman bagi Fëanor, karena saking berapi-apinya jiwanya, tubuhnya segera menjadi abu.

Maka berakhirlah kehidupan elf Noldor yang paling kuat, yang karena tindakannya membuat kaum mereka terkenal sekaligus dilimpahi bencana. Namun, perjuangan putra-putra Fëanor untuk merebut kembali Silmarils masih jauh dari selesai. But that’s another story…



  • Poppy D Kartadikaria Kelanjutan ceritanya tadi udah dibahas sama Novia Stephani aka Prof Illyria ya  

    “Tears unnumbered ye shall shed; and the Valar will fence Valinor against you, and shut you out, so that not even the echo of your lamentation shall pass over the mountain…” Itulah kutukan Mandos yg bikin gue merinding disko pertama kali bacanya....hiiii!
  • Emily Happywise Waaaaaahhh Hannon Le *A*
  • Poppy D Kartadikaria Nah, kebayang kan gimana Feanor dari kecil udah butuh anger management, hehehe. Emaknya aja sampe geletak abis ngelahirin dia, udah kagak kuat idup lagi.
  • Emily Happywise dari belom lahir aja udah nyusahin "
  • Theresia Widyaningtyas iya bener , di hati rasanya ...... what??????? Mandos pleaseeee.....
  • Poppy D Kartadikaria Tapi kalo gak ada Feanor, gak ada aksara Tengwar, gak ada perlawanan terhadap Morgoth, gak ada keturunan Beren-Luthien... Gue love-hate relationship gini sama Feanor *lol*
  • Emily Happywise iya sih... dia kaya Leader revolutioner para elf (=w=)
  • Theresia Widyaningtyas tp tetep , d hatiku Feanor itu luar biasa , dan sbnrnya mungkin dia byk menderita jg .....dr kecil d tinggal emak , trus hrs punya ibu tiri (untungnya g ky ibu tirinya ari anggara) jd se mulia2nya dia jd elf , ttp bisa kesel , cemburu , n marah , murka, mungkin dia cm 'korban' keadaan , sifatnya terbentuk bgt , dan aku kesel knp Miriel tega tdk kembali. (tp kl Miriel kembali tar g ada Galadriel jg ya) whewww
  • Novia Stephani Wah, thankee, Pop! Iya rasa2nya pernah baca ini zaman milis dulu.

    Dan emang...prophecy-nya Mandos serem banget! Ampe bergidik bacanya. Feanor keras kepala banget nggak langsung tunduk dan insaf denger teguran keras Mandos. Ampun deh.

    Nambahin, istri 
    Feanor bernama Nerdanel putri Mahtan. Mahtan adalah elf yg berguru pada Vala Aule. Dari Mahtan Feanor belajar banyak keterampilan engineering termasuk yg akhirnya dia pake dalam pembuatan silmaril.
  • Emily Happywise owwhh pantes Feanor jadi pinter bangget 
  • Michael Bean Feanor pernah ditolak Galadriel, keponakannya waktu minta sehelai rambut emasnya buat silmaril. Makanya pada kaget pas Gimli yang dwarf minta malah dikasih 3!

No comments:

Post a Comment